Lewat Asumsi Distrik, Semua yang Jujur Tak Lagi Kabur

Asumsi menjadi media yang dielu-elukan anak muda melalui sentuhan gaya millenial dalam mewartakan setiap kontennya


Asumsi menjadi media yang dielu-elukan anak muda melalui sentuhan gaya millenial dalam mewartakan setiap kontennya. Jujur saja, masih banyak pilihan media kekinian yang merepresentasikan hal yang sama. Namun melalui konten mereka, Asumsi Distrik, sebuah masterpiece yang menurut saya seperti citra diri mereka.

Kesan liputan yang berkelas tanpa harus menjual air mata, menurut saya seperti sebuah cara pandang yang unik. Alasannya? Tentu saja cukup banyak media yang memaksa ‘air mata’ narasumbernya sebagai konsen utama dalam konten mereka.

Namun tidak dengan Asumsi, meski bersinggungan dengan masyarakat secara langsung tidak serta merta menggadai air mata mereka. Justru pendekatan santai inilah yang menjadi daya tarik mereka, kesan natural dan tidak mendominasi adalah parameter yang pas untuk sebuah konten liputan.

Sisi Magis 'Dea Anugrah' Dalam Asumsi Distrik

Kehadiran Dea Anugrah menjadi sisi magis dalam konten Asumsi Distrik. Pria sopan satu ini mampu merangkul semua elemen masyarakat dengan mudah secara verbal, yakni sebuah tugas besar dalam proses liputan.

Dengan gaya santainya seraya mampu membuktikan bahwa segmen manapun, sekalipun berbahaya dapat  didekati dan dibaca melalui pendekatan yang dialogis. Lewat Asumsi Distrik pula penonton dimanjakan dengan kesempurnaan visual yang dibalut dengan perbincangan berat yang dikemas secara ringan.

Sepintas segmen Asumsi Distrik mengingatkan saya dengan Vice, namun Asumsi berhasil memenangkan hati penggemarnya tanpa membatasi segmen masyarakat manapun. Konten yang membius serta pembawaaan reporter yang tidak biasa menjadi daya jual dari Asumsi.


Ini adalah segmen yang menurut saya sangat berkesan. Dea berhadapan dengan orang-orang penting di Priok, namun berhasil mengemas diskusi yang penting ke dalam bentuk yang lebih sederhana.

Pertemuan Dea dengan Doms Dee memberikan gambaran mengenai arti 'Priok', yakni tidak hanya sebatas daerah, namun sebagai identitas.