Bahas Bahasa, Identitas dan Konstruksi Masyarakat
Ketika manusia menyandang sebuah identitas, sebagian orang berpikir bahwa identitas tersebut adalah ciri atau cara mereka untuk mendefinisikan diri Anda. Sejatinya, meskipun Anda adalah salah satu bagian dari ras tertentu, bukan berarti Anda paham dan berbudaya selayaknya ras atau suku tersebut.
Sebagai contoh ketika keturunan India berdiam di Indonesia di kurun waktu yang cukup lama dan mereka mewariskan keturunan-keturunan mereka melalui budaya yang mereka miliki pada mulanya. Namun, bukan berarti bahwa anak-anak keturunan mereka berbicara dan berbudaya sebagai mana suku atau ras mereka terdahulu.
Sehingga dengan ini kita dapat menyimpulkan bahwa bahasa tidak mengikat identitas suatu ras atau suku, dengan kata lain bahasa merupakan sesuatu yang terjadi dan digunakan oleh kelompok dan atau masyarakat yang mendiami suatu tempat atau negara.
Relasi Identitas dan Bahasa
Identitas dapat dikategorikan menjadi dua, yakni identitas personal dan sosial. Mudahnya, identitas personal adalah aspek-aspek yang terbentuk didalam diri setiap individu, yang mana dari keseluruhan aspek-aspek dan keyakinan atau pemahaman diri tersebut membentuk siapa individu itu.
Berbeda dengan identitas sosial, seseorang tidak lagi dipandang sebagai “individu”, melainkan sebagai impelementasi dari hasil identitas personal yang kemudian diterapkan kedalam kehidupan sosial. Secara umum, identitas sosial adalah cara kita memandang atau bertindak sebagai seseorang yang ikut andil dalam kehidupan bermasyarakat.
Bahasa dan identitas merupakan ikatan yang kuat, ketika kita menyandang atau terlibat dalam budaya dari suatu ras atau suku tertentu, kita memiliki kewajiban untuk menjaga dan mempertahankan bahasa yang kita gunakan.
Meskipun pada akhirnya ada sebagian orang yang mulai meninggalkan dan membaur dengan kelompok masyarakat di suatu daerah tersebut. Karena secara naluriyah, bahasa akan sulit untuk dijaga ataupun dipertahankan apabila hanya ada sedikit penutur dan ahli dalam bahasa tersebut.
Berbicara mengenai nasionalitas dan identitas, munculnya berbagai macam bahasa dari zaman dahulu hingga saat ini, tak lain dan tak bukan adalah hasil jerih payah mereka yang menghargai dan mempertahankan bahasa tersebut sebagai identitasnya, yang mungkin dalam beberapa kasus ada sebagian bahasa yang hilang karena tidak adanya penutur yang menggunakan bahasa tersebut.
Saya mencoba menjelaskan “nasionalitas” secara umum, yakni suatu upaya setiap orang untuk mempertahankan bahasa yang menjadi identitas yang melekat padanya.
Bahasa, Budaya dan Nasionalisme
Menurut John E. Joseph, bahasa dan budaya diibaratkan seperti “republics”. Sebagaimana yang kita ketahui, bahasa adalah salah satu elemen dari budaya yang memiliki peran penting dalam kehidupan bermasyarakat. Bahasa, yang mana diterapkan dalam bersosialisasi, digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa membawa sifat Arbitrary, yang adalah tidak ada hubungan secara langsung antara apa yang dideskripsikan dan apa yang disimbolkan. Mudahnya, kita memilih kata “kursi” yang mendeskripsikan dari simbol “kursi” yang secara makna tidak ada sama sekali hubungannya.
Sedangkan budaya, adalah segala aspek atau sistem yang mengikat dan memiliki keleluasaan untuk membentuk kelompok sosial, baik secara luas ataupun sempit. Dari penjabaran diatas dapat kita simpulkan bahwa bahasa dan budaya tidak dapat dipisahkan, atau menjadi satu kesatuan utuh.
Menurut Wardhaugh, beliau mendefinisikan bahasa sebagai suatu pengetahuan dari aturan dan principles, serta bagaimana cara untuk berkomunikasi dan melakukan sesuatu dengan suara, kata, dan kalimat. Pun, menurut beliau budaya merupakan sebuah istilah dari partiipatory responsibilities of its member. Yang mana dimaksudkan budaya sebagai tanggung jawab dari penutur dan kelompok atau anggota masyarakat yang memiliki budaya itu sendiri.
Sedang menurut Sapir dan Whorf, hubungan antara bahasa dan budaya adalah antar satu dengan yang lain tidak dapat dimengerti tanpa adanya pengetahuan dari keduanya. Ketika kita mencoba menarik benang merah dari statement mereka, budaya dan bahasa adalah yang sangat penting dalam keberlangsungan suatu kelompok masyarakat. Bagaimana tidak, sebagai contoh ketika kita melihat beberapa ras atau suku yang ada di masyarakat saat ini.
Etnik india misalnya, mereka tinggal di dalam kelompok mereka sendiri dan dalam lingkungan mereka sendiri (Little India). Akan tetapi, mereka kemudian berbaur dan mau terbuka untuk beradaptasi dengan budaya dan bahasa dari masyarakat setempat.
Bahasa Dibalut Agama dan Etnis
Etnik, didalam Ethnolinguistics, merupakan bidang yang mempelajari tentang hubungan antara budaya dan bahasa. Sedangkan etnik sendiri, lebih mengacu pada ciri fisik dari suatu kelompok masyarakat. Sebagai contoh; Arab, india, bangladesh, dan cina.
"Ethnic identity is focused more on common descent and on a cultural herritage shared because of common descent, than on political aspirations for autonomy" - John F. Joseph
Jadi, identitas etnik merupakan sesuatu yang benar-benar melekat pada diri dari masing-masing anggota kelompok suku tertentu. Maksudnya, ciri-ciri fisik dan keturunannya lah yang dapat dikategorikan sebagai identitas etnik ini. Sebagai contoh, gambaran kita ketika mendengar etnis cina adalah bermata sipit, berkulit putih, dan berambut hitam. Atau mungkin ketika kita mendengar etnis india, kita akan cenderung untuk mendeskripsikannya seperti berikut; berkulit hitam atau sawo manis, berhidung mancung, dan lain sebagainya.
Tambahnya,
"in most cultures ethnic and religious identities are bound up with reproduction, in the sense that they limit who one can marry, whether endogamy or exogamy is the cultural norm that gives them an evolutionary dimension".
Dengan kata lain, bahasa dan agama memiliki keterikatan yang kuat.ketika identitas suatu bahasa dikaitkan dengan agama tertentu, sebagai contoh, bahasa arab dikaitkan dengan agama islam. Nyatanya, penutur bahasa arab di Timur Tengah tidak semua beragama islam.
Dalam bukunya, John F. Joseph memberikan gambaran tentang bagaimana bahasa menjadi identitas sebuah agama.
"How early islamic scholars sought to prove that every word of koran is ‘pure arabic’. In a comparable way, extremely conservative protestant christian sects such as the amish and mennonities in the US try to live in accordance with the bible to be written in english".
Dengan melihat analogi-analogi tersebut, secara eksplisit menegaskan bahwa bagaimana kedua bahasa tersebut diatas sebagai identitas oleh agama Islam dan Kristen. Bukan hanya berlaku saat kitab suci dari suatu agama memakai bahasa tertentu, namun bisa juga invasi oleh suatu negara dalam melakukan upaya untuk menyebarkan ajaran agama, dan kemudian bahasa itulah yang menjadi identitas sebuah agama.
